Tidak Mau Disalahkan

Aku merutuki diriku sendiri yang telah dengan sembrononya mengharapkanmu. Menganggap bahwa perasaan itu nyata, padahal kau biasa saja. Berpikir bahwa di balik canda-canda dan binar mata itu ada harap yang juga kau selipkan, sedangkan nyatanya itu hanyalah ilusi yang paling sering kubayangkan.
Lanjutkan membaca “Tidak Mau Disalahkan”

Iklan

Sebelum Akhirnya Kuputuskan Untuk Pergi

Sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi, sapamu adalah apa yang selalu kunantikan dengan debar. Kata-katamu adalah apa yang kubaca dengan sabar. Kuhemat-hemat agar bisa menikmatinya lamat-lamat.

Bertukar kabar barang sebentar, sudah cukup menenangkan rinduku yang gusar. Ketika balasmu jadi sedikit lebih lama, aku jadi dilema. Aku bisa duduk diam dan menatap ponsel cukup lama. Menanti suara dering yang jika darimu entah kenapa terasa nyaring di kuping. Lanjutkan membaca “Sebelum Akhirnya Kuputuskan Untuk Pergi”

Bumbu Kopi Termantab!

BUMBU KOPI MANTAB

– Padahal gue yakin, semua orang yang ada di sini pasti bisa bikin kopi ginian. Tapi kenapa bisa se rame ini ya?

+ Ya sama halnya kayak kafe yang sering kamu datengin itu, Mo. Aku juga percaya kamu juga lebih dari mampu buat bikin makanan yang sama persis seperti yang ada di sana.

– Tapi kan beda, Sur. Tempat itu bermakna buat gue.

+ Apa? Tempat pertama kali kamu ketemu sama Cindy? Pada intinya sama aja. Lanjutkan membaca “Bumbu Kopi Termantab!”

Sambutan Dan Misi Balas Dendam

lampu-temaramSelamat datang di alamat dan rumah barunya kafe temaram.

Cukup berat rasanya melepas platform yang sudah membesarkan kafe temaram selama ini. Mulai dari yang pengunjung perharinya satuan sampai jadi puluhan. Mulai dari yang tulisannya masih lu-gue, sampai jadi seperti sekarang. Yah, kadang kita harus rela melepaskan sesuatu yang sudah kita genggam lama. Lanjutkan membaca “Sambutan Dan Misi Balas Dendam”

Agak Tipis Rasanya

Kalau cinta ungkapin dong!
Kalau beneran sayang, buktiin dong!
Katanya cinta, perjuangin dong!

Seringkali saya mendapat nasihat seperti ini ketika saya diminta menceritakan sedikit tentang usaha saya melepaskan ‘dia’. Tapi sekarang, saya lebih sering menjawab dengan:

“Jomblo mengejar halal aja, nih. Hehe”

Ketika ditanya:

“Samo siapo kau kini?”

Lebih aman.

Jadi kali ini, izinkan saya menyampaikan pendapat saya mengenai nasehat-nasehat di awal posting-an ini.

Kalau cinta, ungkapin dong!
Memang tidak salah mengungkapkan cinta. Tapi ketika konteksnya adalah untuk seseorang yang belum mahram, buat apa? Kalaupun perasaan itu berbalas, untuk apa? Menjalin ikatan yang tidak semestinya?

Saya tidak munafik. Saya pernah kok, pacaran. Sebuah pengalaman yang membuat saya semakin mengerti mengapa Islam membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Sebab pacaran, umumnya membawa kita melanggar yang seharusnya tidak kita lakukan. Mulai dari perkara non-fisik,  hingga aktivitas fisik. Yang dirugiin siapa? Perempuan.

Kalau beneran sayang, buktiin dong!
Saya setuju. Jika benar sayang, buktikan! Ada dua caranya: Halalkan atau lepaskan! Menurut saya, memang cuma dua cara itu yang bisa jadi bukti kesungguhan rasa. Halalkan, ketika kamu sudah siap untuk menjadikannya teman hidupmu, dan lepaskan, jika kamu masih belum mampu.

Kalau dia nanti diambil orang gimana?

Kamu tahu nggak, kalau Allah selalu kasih yang terbaik menurutnya untuk hamba-Nya? Kalau tahu, cukup percaya saja. Sambil terus berusaha perbaiki diri.

Kalau cinta, perjuangin dong!
Sepakat! Manfaatkanlah energi cinta itu untuk segera meraih mimpi. Memacu semangat untuk memperbaiki diri, tapi inget niatnya. Jangan sampai bengkok.

Kita suka nggak nyadar. Kadang kita berusaha memperbaiki diri, bukan murni untuk mendekat pada-Nya, tapi agar Dia menjodohkan kita dengan seseorang yan kita cinta. Agak tipis, rasanya. Tapi beda jauh konteksnya.

Jodoh sudah pasti nggak akan kemana, kok. Percaya deh, kalau bukan dia, Allah bakal ganti sama yang lebih baik. Dengan catatan, kita juga harus jadi pribadi yang semakin baik. Sebab katanya, jodoh itu cerminan diri.

Selamat berjuang, teman seperjombloan!

Sepakati Saja Judulnya : Gagal Baper

Seiring waktu berjalan, dalam rutinnya terlibat dalam pembicaraan. Bukan tak mungkin sebuah perasaan tumbuh perlahan.

Sudah beberapa bulan ini tak ada canda yang menyelingi malam-malam saya lewat aplikasi “App Apa” itu. Kita seolah jadi dua orang yang tak hanya jauh raga. Seolah, kini ada lembah yang menjaraki kita.

Jujur saja, terkadang terasa rindu memulai lagi percakapan itu. Tapi selalu terlintas, bahwa saya harus bisa menahan diri. Meski sudah berkali-kali, sesuatu dalam diri saya ini tetap saja agak bebal dinasehati. Tapi ya, sudah lah. Saya cuma ingin cerita sedikit.

Jadi, tepatnya jum’at kemarin, saya mengambil langkah berani untuk mengajukan judul untuk skripsi. Sebagai mahasiswa akhir yang nggak teladan saya berusaha sebaik mungkin sekalipun masih banyak yang saya rasa kurang dalam proposal skripsi yang saya buat. Proposal ini belum tentu diterima. Saya masih harus menunggu untuk pemberitahuan selanjutnya. Kalau diterima ya lanjut ke jenjang berikutnya, kalau nggak diterima ya harus PeDeKaTe sama yang lain.

Sempat sih, kehilangan motivasi. Kamu sih, nggak nyemangatin. Tapi saya nggak mau jadi lelaki lemah. Apa-apa butuh kamu semangatin. Jadi dengan tekad biar bisa segera ngelamar eeh segera lulus maksudnya, saya harus berjuang. Dengan ataupun tanpa ucapan-ucapan semangat darimu.

Rasanya, deg-degan. Kayak nunggu kamu kasih jawaban. Semoga saja diterima. Biar bisa segera melangkah ke tahap selanjutnya. Segera lulus, segera fokus.

Sekian dulu deh, curhatan mahasiswa tingkat akhir nan tak teladan ini.

Buat kamu, semangat selalu, ya.. 🙂

Ngeyakinin Orangtua Kamu

Salah satu pertanyaan sakti para calon mertua ketika ada seseorang -biasanya laki-laki yang datang ketika bermaksud menyatakan keinginannya untuk melamar atau sejenisnya, adalah:

“Kamu kerjanya apa?”

Beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman di kampus menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Cabang Muara Bungo. Gambaran singkatnya, acara tersebut merupakan acara yang membahas mengenai program-program yang akan dilakukan HIPMI cabang Muara Bungo hingga beberapa tahun ke depan. Namanya juga Himpunan Pengusaha, ya jelas, isinya para pengusaha. Beberapa diantaranya masih sangat muda, yang kemudian saya tahu namanya; Kevin dan Arifin.

Sebetulnya saya punya ide bisnis yang sudah lumayan membayang di kepala. Alasan pertama, karena di semester 7 ini mahasiswa jurusan saya harus mengontrak mata kuliah Entrepreneurship, yang mana diharuskan pula untuk melakukan praktek kewirausahaan. Alasan ke dua, adalah karena sebentar lagi lulus. Saya tidak mau kemudian menjadi seperti kakak tingkat dan beberapa teman saya yang sudah mendahului saya wisuda. Wira-wiri cari kerja. Masukin lamaran ke mana-mana. Bahkan sebagian besar nggak tahu mau ke mana dan akhirnya mengikuti jejak orang tua. Menjadi petani karet/sawit. Nggak salah, sih. Cuma, rasanya seperti percuma kuliah lama dengan bisaya yang lumayan, tapi ujung-ujungnya sama saja. Akan berbeda kalau terjun di bidang pertanian, tapi kita bisa mempekerjakan orang lain. Itu baru namanya mengamalkan ilmu.

Melihat kenyataan yang demikian itu lah saya jadi ngebet pengen mulai bisnis. Memang lumayan sulit untuk mendapatkan kepercayaan orangtua bahwa saya serius ingin terjun di bisnis. Tapi, akhirnya lumayan diberi kelonggaran. Sebab daripada wira-wiri ngelamar kerja, lebih baik ngelamar kamu. eh gimana? Abaikan!

“Jadi kamu ini kerjanya apa?”
“Saya pengusaha, pak.” Sambil mesam-mesem, muka dimanis-manisin.
“Ooo… Usaha apa?”  … Udah lama? … Omzet berapa? … Udah punya rumah? … Bla… bla.. bla…”
“Jadi gimana, pak. Apa saya diterima?”
“Anda penasaran? Tunggu setelah pesan-pesan berikut ini.”
“Lah…”

Jalan pun seolah jadi terbuka ketika di acara tersebut saya bertemu teman lama. Kemudian kami sharing tentang bagaimana-bagaimananya. Tidak menunggu lama. Dua minggu setelah pertemuan itu, produksi pertama di lakukan. Memang yang namanya memulai nggak selalu mulus. Kendalanya ada aja. Tapi semoga, seiring berjalannya waktu, bisnis ini bisa menjadi salah satu hal, agar bisa ngeyakinin orangtua kamu. Eh apa? Skip!

Sekalian promo aja deh, ya. Ini link media sosial yang saya kelola untuk brand bisnis saya.

IG : @nageh.id
FB : Nageh

Saat ini memang masih belum bisa ngelakuin pengiriman ke luar daerah, sih. Tapi nggak apa-apa kalau kalian pengen tau dulu. Semoga bisa segera ekspansi.

Segini dulu ceritanya. Till Next Time!

Try To Out

Setelah membaca sesuatu, tiba-tiba saya jadi ingin menuliskan sesuatu. Takut terlupa, saya kemudian menyobek kertas dari buku tulis milik adik saya yang pada saat saya menulis ini, tengah tergeletak karena sedang demam.

Jadi, barusan saya membaca ebook miliknya Puthut EA yang berisi kisah kesehariannya dengan Isteri dan Kali, anaknya. Sangat menarik bagaimana beliau mengisahkan perjalanan keluarga kecilnya dan bagaimana beliau menuturkan mengenai polah tingkah Kali. Bikin pengen aja. eeh..

Bisa dibilang, saya langsung jatuh cinta sejak Bab pertama. Yah, pada kenyataannya saya memang baru membaca bab pertama. Itu pun belum habis. Ini seperti membaca lembar demi lembar cerita hidup seseorang dan bagaimana dia melaluinya. Bikin senyum sendiri sekaligus iri. Bisa nggak ya, nanti punya keluarga yang seperti itu? Hangat, sederhana, dan terasa penuh cinta.

Namanya juga jomblo. Kebayangnya ya yang enaknya. Tapi kepikiran juga sih pas bagian repotnya ketika sudah berkeluarga nanti. Gimana memenuhi kebutuhan sehari-hari, membagi waktu untuk keluarga, merencanakan pendidikan anak, kebutuhan tak terduga, dan lain-lain. Sebagai laki-laki, saya merasa kurang tempaan.

Laki-laki seharusnya memang tahan banting. Itu yang sering terlintas di benak saya, yang juga saya sepakati. Hanya saja kemana saya harus memulai? Itu yang masih saya cari. Dan setelah membaca sedikit cerita dari mas Puthut EA, saya jadi terinspirasi lagi. Besok, setidaknya saya harus berani melakukan satu hal, yang selama ini belum pernah saya lakukan sendiri.

Mau bagaimana lagi? Mau kapan lagi? sebab dari jaman dahulu para orangtua kita pasti sepakat untuk satu nasihat yang sama: “Jadi laki-laki itu, harus berani.”