Level Tertinggi Dalam Mencintai

level tertinggi mencintai

Menyatakan perasaan, pada akhirnya hanyalah sebuah pengakuan. Selanjutnya, adalah kesepakatan.

Tidak selalu, memang. Sebuah perasaan dibalas dengan rasa yang sama. Satu hal yang saya tahu, tidak semua orang dianugerahi kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dengan baik. Sebagian orang hanya mampu memberi signal-signal dari jauh. Sebagian lainnya hanya mampu membuatnya tampak seperti bercanda. Seperti, ya kau tahu lah.

Tapi ya, setelah saya pikir lagi, barangkali kalau memang ingin menyatakan perasaan, ya nyatakan saja. Jika kamu memang tulus menyukainya, semestinya kau tak ragu menyatakannya sebab kau juga tak mengharap apa-apa.

+ “Aku menyukaimu.”
– “Iya. Oke. Terus?”
+ “Aku cuma mau bilang itu saja.”
– “…”
Lanjutkan membaca “Level Tertinggi Dalam Mencintai”

Iklan

See You When I See You (Baik-baik ya)

Aku sempat khawatir saat Adi bilang kalau hubungan kalian sedang tidak baik. Komunikasi yang sulit terjalin karena kesibukan masing-masing. Memang, dalam hubungan jarak jauh, cuma komunikasi virtual lah obat yang paling terasa mujarab untuk melepas rindu. Sebab untuk sebuah pelukan, atau sekedar genggaman tangan, setahun sekali pun belum mungkin tentu terjadi. Tapi aku yakin kalau kalian ini orang-orang yang hebat. Aku yakin kalian kuat.

Aku memang belum pernah tahu bagaimana rasanya menjalani hubungan yang dibentang jarak. Tapi, memang butuh rasa pengertian yang besar kepada pasangan yang mungkin terlalu lelah disiksa kesibukan. Sungguh, aku benar-benar khawatir kalau nanti hubungan kalian bermasalah. 

Mungkin kalian tidak menyadari. Beberapa hal aku tuliskan karena terinspirasi dari kalian. Ada hal yang bisa kupelajari dari apa yang kalian jalani. Aku tidak rela kalau kalian kenapa-kenapa nanti.

Aku selalu menunggu saat kalian menuliskan tentang kalian berdua. Entah itu tentang kerinduan, atau pada saat kalian bertemu. Aku masih ingat tulisan kalian yang sampai sekarang terasa lekat di kepala. Itu adalah tentang saat kalian sedang menunggu. Bukan menunggu seseorang yang akan datang. Tapi menunggu waktu untuk saling melepaskan dan memberi waktu ada jarak untuk kembali berperan. Aku ikut merasakan getir yang kalian ceritakan. Menunggu saat-saat untuk dipisahkan. Itu berat.

Dan yang tidak kalah nyeseknya, ketika kalian memainkan sebuah permainan. Aku heran Adi dapat ide itu dari mana. Tapi kalau saja di film, momen itu mungkin akan jadi momen yang ikonik. Momen yang bakal lekat di kepala penonton. Nama permainan itu adalah “Menahan-Tangis-Sampai-Di-Rumah”. Permainan yang hanya berlangsung sesaat. Karena beberapa menit kemudian, kalian kalah bersamaan.

Adi-Deva. Kalian baik-baik ya. Kalian hebat. Semoga kalian baik-baik saja.

Eh, Eh, bulan ini kalian Anniv. bukan sih? Iya, kan?

L.D.R.

Jarak ini tidak lebih panjang dari cintaku untukmu. Kuat, ya. 🙂
Yang saya tahu, sebagian orang memang tidak percaya bahwa cinta yang dibentang jarak akan bertahan lama. Saya mengerti kekhawatiran mereka. Mereka tidak salah sepenuhnya. (Tuh buat para pejuang jarak, gue belain.)
Saya memang bukan salah satu dari pelaku cinta jarak jauh. Tapi saya mengakui siapapun yang berani menjalani dan bertahan untuk percaya, mereka hebat. Bukan hal mudah menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam:

“Pacar lo mana?”
“Yakin dia setia di sana?”
“Yakin, dia nggak selingkuh?”

Atau mungkin cibiran seperti:

“Pacaran sama hp, ya.”

Itu sama berbahayanya dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Buat para jomblo.

Jarak hanya membentang raga. Bukan rasa. Itu sebabnya saya percaya sejauh apapun jarak yang membentang, apabila hati kuat dalam keyakinan, tak akan ada masalah. Memang tak mudah. Makanya saya bilang mereka (pelaku LDR) itu hebat.

Ngomong-ngomong soal LDR. Saya suka sama pasangan Ini dan Ini. Saya nggak tahu pasti sih mereka ini dari planet mana. Tapi setiap kali mereka menuliskan kisah tentang pertemuan dan kerinduan mereka, rasanya tuh, gimana ya. Pokoknya kalau kalian baca kalian akan berkomentar “Hebat, ih.” Saya tak jarang dibuat tersenyum guling-guling(?) sama cerita yang mereka tuliskan. Absurd!

Saya do’ain biar pasangan ini menikah, terus langgeng sampai akhir hayat. (Tuh Di, Dep. Gue do’ain! baik kan, gue!)

Saya punya keinginan suatu saat bisa ketemu sama mereka. Kalaupun nggak direncanakan alias papasan di jalan doang nggak apa-apa sih. Soalnya takut nggak sanggup ngelihat mereka berdua. Hehehe. Yah meskipun sekarang saya masih jauh dari sana. Selama nafas masih dikandung badan, dan bayar tiket masih pakai duit yang syaratnya nggak harus bawa pasangan, bisa aja kan. 

Lagi pula heran deh kadang, sama orang-orang. Udah tahu datangnya bawa motor sendirian. Masih juga ditanya; “Lo sendirian?”. Huft!

Tapi Jomblo juga LDR kok.  Tapi pasangannya masih belum diketahui. Rindu-rindunya cuma bisa disampaikan lewat do’a. Lalu mengikhlaskan Tuhan yang menyampaikan semuanya. Tugas si jomblo, memantaskan diri.

Buat yang mau baca-baca kisah mereka, bisa mampir langsung ke blognya: Ini dan Ini. Ada juga blog yang mereka kelola barengan. Inih!

Bocor, Awas Basah

Seharusnya sih, bulan ini udah beres semuanya. Tapi berhubung-berhubung dan berhubung. Jadinya malah bulan ini baru mau melangkahnya. Alhamdulillah, sekarang udah nyampe 20%.

Sudah sejak bulan Februari padahal, aku mau nargetin semuanya selesai di bulan Juni. Tapi nggak kekejar juga karena kesibukan. Meskipun gitu aku udah sempet mulai pelan-pelan. Dan bulan ini harus selesai.

Buat yang bertanya-tanya, aku mau nerbitin buku. Iya nggak lewat penerbit sih, tapi secara indie. Soalnya kalau dianterin ke penerbit, aku nggak tahu ini genrenya apa. Lah??

Yang jelas, buku ini berisi kumpulan surat-surat pendek. Eh tapi bukan Juz ‘Amma ya. Maksudnya surat-surat pendek itu, ungkapan-ungkapan. Buat yangmasih bingung juga, ini aku kasih salah satu paragraf yang ada di sana.

Aku nggak tahu pasti apakah nanti bakal ada yang beli. Tapi buat kalian yang setia ngebaca dan baper setiap mampir ke blog-ku ini, semoga perasaan kalian juga terwakilkan lewat buku itu. (siap-siap baper deh kalau baca bukunya).

Udah dulu deh. Kita sambung lagi kapan-kapan. Dan, nantikan tanggal terbitnya ya. 🙂

Tentang blog dan Pilihan

Entah kenapa pas buka halaman blog ini, aku jadi semangat nulis lagi. Hahaha
Gini doang bisa bikin bahagia. Eaakkk

Mungkin suasana barunya bikin aura penulisnya tambah ganteng. Duh jadi malu. Tapi ya kalian nggak perlu terpesona gitu. Biasa aja ekspresinya. Oke?

Ngomong-ngomong soal sesuatu yang baru, Aku pernah denger seseorang bilang; Yang baru belum tentu sebaik yang lama. Tapi, kadang kita harus ngambil keputusan itu. Ya, nggak? Karena sebagai manusia, kita punya hak untuk memilih, dan sebenarnya kita juga nggak perlu menyesal sudah mengambil pilihan. Asalkan kita emang yakin sama apa yang kita pilih.

Terus, kalo nggak yakin gimana? Sejujurnya aku juga kurang ngerti soal itu. Tapi kalau menurutku, sih. Selama hati dan diri kita ngerasa nyaman saat menjalani pilihan yang kita ambil tersebut, nggak ada alasan untuk menyesal kalau gagal. Toh ketika pilihan yang kita ambil itu murni pilihan kita, otomatis kita bakal ngelakuin yang terbaik untuk pilihan itu. Kan?

Terlepas dari semua typo yang terjadi. Semoga kita selalu bisa ngejalanin pilihan hidup kita sendiri dan kita nggak pernah nyesel melakukan itu. Kita bisa ngelakuin hal yang terbaik untuk pilihan hidup yang kita ambil. Dan yang paling penting dari semuanya adalah…

Kita bahagia. Bahagia sama apa yang kita pilih.

Cemungutttddhh!!!!

Fake Account dan Bot Account: Analisis Blogger (Judul makalah)

Buat kalian yang aktif di dunia pertwitteran pasti udah nggak asing dengan adanya fake account dan bot account. Dan aku baru sadar kalau banyak bot account yang aku follow. Jadi tweet-tweet yang muncul di timeline itu rata-rata seragam. Ngeretweetnya juga random. Mending retweetnya itu yang lucu-lucu gitu. nah ini malah retweet dari akun-akun kepo macam simi-simi itu. Nih contohnye

Hih. Wal hasil jadi males. Untuk itu, di sini aku mau ngomongin soal beberapa hal yang bikin blogger jarang update blognya.

Pada titik ini kalian pasti mengira bahwa tulisan ini nggak nyambung sama bagian pembukaan dan judul. Tapi aku klarifikasi bahwa ini tidaklah seperti yang kalin kira. Jadi jangan suujon dulu.

Pertama, Tugas. Tugas ini emang kampret banget. Apa lagi yang kuliahnya udah di semester atas-atas. Biasanya makin banyak tugas. Apalagi untuk yang kuliahnya dibidang exacta (embuh bener apa enggak tulisannya). Aku punya temen yang kuliah di jurusan teknik sipil. Kata dia, hidup di fakultas teknik itu berat, seberat cintaku padamu. Uhuk!Sekalinya ada tugas itu tulis tangan. Nggak tanggung-tanggung. Satu tugasbisa ngabisin satu rim kertas HVS. Apalagi kalau tugasnya tugas asistensi. Kalau salah, harus ngulang dari awal. Dan itu tulis tangan! HIH! Tugas emang kampret. Waktu jadi kesita buat mikirin kamu.

Heuuhhh. src: google

Kedua, Mood. Mood ini emang juga kampret lah. Apalagi buat yang orangnya moody kayak aku ini. Jadilah apdet blognya sesuai dengan kata hati saja. Makanya kalian bisa baca tulisan-tulisan galau di blog ini. Iya, gue mah gitu orangnya (ikut-ikutan biar dibilang kekinian). Selain bentuk tulisan, moody bisa bikin males buat buka m.s. word dan sebagainya untuk mulai nulis. Kan, kampret.

Sorry gak mood src: google

Kedelapan, Paket. Ini juga kampret banget, hih. Buat orang-orang yang tidak punya kuota berlimpah seperti aku ini, ketersediaan paket sangat membatasi lingkup pengamatan (biar agak ilmiah dikit). Hasilnya, yang  terjadi adalah irisan antara malas dan penghematan (sumpah ini aku nggak tahu lagi ngomongin apa). Nah, dari reboisasi tersebut maka didapatkanlah afiliasi yang bersumber pada efisiensi kemakmuran kerja. Oleh karena itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan ukuran tubuh, maka terjadilah ketidakpuasan dari pihak konsumen.

Aslinya males mau pake gambar ini. src:google

Oke, kurasa cukup segitu saja dulu. Semoga kamu nggak galau baca tulisan ku ya 🙂

P.S. : Aku nulis ini pas midnight karena paket midnight
P.S. Lagi : Selain itu lagi begadang karena ngerjain tugas, tapi  sambli nulis ini sambil main solitaire. Keren, multitasking! Padahal tugas jadi terabaikan. BODO
P.S Lagi-lagi : Kepanjangan dari P.S. itu apa ya?

Dikit Lagi Galau

Di sinilah aku yang sedang duduk anteng memandangi layar laptop. Jari-jari tanganku yang buntek mencoba menari-nari di atas keyboard yang lebih sering memencet kursor atau backspace daripada hurufnya. Sebenarnya aku bingung juga sih mau nulis apa. Tapi tangan udah gatal pengen nulis. Seperti ada sesuatu yang harus dikeluarkan dari kepala. Meskipun entah itu apa.

Mengenai tulis menulis, mungkin beberapa dari kamu sudah pernah dengar puisi-puisi yang ku upload di facebook. Iya aku memang sedang rajin sih bikin puisi. Awalnya punya niat bikin antologi puisi. Tapi pas dibaca-baca ulang, aku jadi nggak pede.

Masih soal tulis-menulis. Ketika ngeblog, aku merasa kurang bisa nyeritain keseharianku dengan cara yang menyenangkan seperti blogger lain yang keren-keren itu. Aku juga pengen sih bikin tulisan yang bisa bikin orang ketawa-ketawa sampe kehilangan kotak ketawa. Sayangnya aku nggak pinter ngelucu. Yang ada malah bikin orang jadi sebel dan ngerasa buang waktu.

Jadi biat kalian yang merasa udah terbuang waktunya karena baca postingan ini, atas nama pribadi, aku mengucapkan: SUKURIIINNN!!! EMANG ENAAKK!! GUE GAK PEDULI!!!
Hehehe

Tapi makasih sih, udah baca-baca di sini. Meskipun beberapa tulisan di blog ini mungkin malah bikin kamu sedih.

Yaudah, segini dulu nulisnya. Lain waktu kita ngobrol lagi. Okey?
Seeya! 😀