Waktu Untuk Sembuh

Tidak ada yang akan terus menetap. Sebab hidup memiliki masa. Setiap yang berawal pasti berakhir. Kau juga harus mengerti, ketika sesuatu sudah ditakdirkan berakhir, satu-satunya hal yang perlu kau lakukan adalah memulai langkah.

Aku tahu betapa pelik ketika harapan-harapan yang terbangun dalam angan pupus sirna tak bersisa. Aku sadar setiap orang berbeda-beda menyikapinya. Dan untukmu, barangkali kau memang cuma butuh waktu yang sedikit lebih lama untuk terbiasa. Itu pikiran positifku. Sedangkan prasangkaku, kau hanya terlalu sering mengubur dirimu dengan nostalgia masa lalu.

Aku ingin memberitahumu bahwa kadang pada kenyataannya ada cinta yang hanya hadir tanpa bisa diapa-apakan. Memberitahumu tentang berbagai alasan yang semestinya cukup untuk membuatmu berhenti dan menerima realita. Bahwa beberapa harapan ada, hanya untuk dilepaskan.

Iklan

Detik Terakhir Kita

detik-terakhir

Kita dekat. Namun hanya punggung kita yang berhadapan. Menutupi banyak hal yang ada di sebaliknya. Tanpa tertembus.

Kita telah kalah. Memang, bukan kalah oleh satu sama lain. Kita kalah oleh diri kita masing-masing. Aku kalah karena merasa tak bisa memperjuangkan. Dan kau kalah, karena selalu merasa berjuang sendirian.
Lanjutkan membaca “Detik Terakhir Kita”

Cinta Itu Ikhlas

Mencintai itu butuh keberanian.

“Aku takut kehilangan dirimu.”
“Jangan nakal ya, di sana.”
“Kamu sayang sama aku, nggak.”

Menurutku adalah kata-kata yang tak selayaknya diucapkan oleh seorang pencinta. Sebab sama saja dengan memenjara. Jika dia memang orang yang benar mencintaimu, tanpa kau ucapkan itu sekalipun dia tak akan meninggalkanmu. Jika dia memang benar-benar menyayangimu dia tak akan berpaling darimu. Jika dia memang sungguh-sungguh denganmu, tanpa kau minta pengakuan pun dia akan selalu mengaku, meski setiap orang punya cara yang berbeda untuk melakukannya.

Punya rasa takut kehilangan memang wajar. Hanya saja kalau terus kamu pelihara lama-lama malah bikin kamu sendiri tersiksa. Kamu jadi mudah curiga tanpa alasan yang jelas. Rasa curiga yang didorong oleh ketakutan-ketakutan perihal kehilangan akan menumbuhkan perspektif negatif yang pada akhirnya membuatmu kesal pada hal-hal yang tak jelas. Membuatmu menuduh sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Pertengkaran-pertengkaran kecil akan jadi besar dan menghancurkan. Lalu, kalian akan sakit sendiri.

Mencintai, menurutku adalah memberikan kebebasan kepada yang kamu cintai untuk meraih bahagia. Mencintai adalah perihal memberi yang terbaik. Jika mengutip kalimat Sujiwo Tejo, ketika kamu merasa berkorban, itu bukan cinta. Ya. Cinta adalah keikhlasan. Dan ikhlas adalah pekerjaan yang berat. Itu sebabnya cinta tak selayaknya terlalu mudah diucapkan.

Apa yang ingin kubagikan pada kesempatan ini adalah; Jika kamu ingin dicintai dengan baik, maka mencintailah dengan baik. Mencintai yang tanpa pamrih, yang tak menuntut untuk harus memiliki. Ketika dia yang kau cintai tak memilihmu, percayalah Tuhan selalu tahu yang terbaik untukmu. Kembali, mencintai itu butuh keikhlasan.

Berat? Memang. Tapi itulah cinta.

Aku Benci Kamu!

Katanya, seseorang yang kita sukai bisa saja menjadi seseorang yang kita benci. Maka sebelum hal itu terjadi, aku ingin belajar membenci segala hal tentang kamu.

Aku selalu benci caramu menahan obrolan kita untuk berhenti.
Aku selalu benci cara bicaramu yang membuatku tak bisa mendengar suara lain selain suaramu.
Aku selalu benci caramu menyesap minuman yang ada di gelasmu.
Aku selalu benci caramu berpakaian yang selalu sederhana namun entah mengapa terlihat sempurna.
Aku benci!
Aku benci saat rindu mulai mengampiriku.
Aku benci saat kamu tiba-tiba datang memecah konsentrasiku.
Aku benci saat setiap malam menjelang tidur, alam bawah sadarku tanpa bisa ku kendalikan kembali menyapamu.
Aku benci setiap sapa darimu yang membuatku lupa caranya terlelap.
Dan hal yang paling ku benci; Aku tidak pernah benar-benar bisa membencimu.

Terbaik

Ada banyak hal yang kusesali di masa lalu. Ada hal-hal yang sangat aku ingin menghapusnya dari ingatanku dan ingatan orang-orang yang pernah terlibat didalamnya. Tapi itu tidak mungkin, kan?

Kalau tidak ada masa lalu yang seperti itu, aku tidak mungkin jadi aku yang sekarang. Bila tidak ada masa lalu itu, aku tidak akan mengenalmu. Bila tidak ada masa lalu, mungkin aku masih tidak tahu ke  mana harus menuju.

Aku masih tidak tahu apakah kamu nantinya bisa dan mau menerima semuaku. Sebab aku masih menunggu. Aku menunggu waktu yang semestinya untuk menemuimu dengan cara yang kamu harapkan. Karena kamu memang berbeda. Tidak mungkin kusamakan dengan orang yang pernah menjadi masa laluku.

Namun menunggu-ku tak berarti diam. Menanti tak selalu berarti tak melakukan apa-apa. Penantian dalam kesabaran dan kepasrahan, itu adalah sebentuk perjuangan. Karena kamu berbeda. Cara memperjuangkanmu, juga berbeda.

Aku semogakan kamu. Meskipun tidak muluk yang kupinta padaNya untukmu. Hanya bahagiamu, dan yang  terbaik untukmu, juga untukku. 
30 September 2015

Kamu Yang (Kembali) Membuatku Jatuh Hati

Tidak pasti bahwa jatuh hati kepada orang baru, adalah bukti bahwa kita sudah berhasil move on. Namun, ketika jatuh hati itu tak lagi diselimuti dendam masa lalu, mungkin saja iya. Dan kurasa, itu adalah salah satu tanda.

Kamu masuk dengan sederhana dan anggun. Tidak gemlatakan memporak-porandakan debar di dada. Kamu datang dengan membawa ketenangan yang meneduhkan. Kamu hadir dan menguatkanku dalam penerimaan. Meski tidak sepenuhnya kamu sadari, bahkan mungkin tidak kamu sadari.

Aku kagumi apa yang kamu perbuat selama ini. Ya, kamu memang bukan orang yang benar-benar baru di hidupku. Kita pernah bertemu beberapa tahun lalu.  Lalu komunikasi kita sempat terputus. Hingga beberapa waktu belakangan, tumbuh rasa yang sullit kujelaskan.

Kamu bermetamorfosa dari gadis yang dulu kukenal. Meski tak banyak darimu yang berubah, kecuali taqwamu yang menurutku bertambah. Sebab itu aku sangat menghargaimu dengan tak segera mengungkapkan perasaanku. Sebab aku yakin, bukan seperti itu cara yang kamu mau. Aku juga sadar diri seperti apa aku.

Aku tidak pesimis terhadap diriku. Namun aku juga tak mau jadi egois dengan berdo’a, agar hanya aku yang ditakdirkan untukmu. Sebab mungkin saja, saat ini Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang lebih layak untukmu. Maka dari itu, dengan segala penerimaanku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukku juga untukmu.

Kamu yang berhasil membuatku jatuh hati. Mungkin kamu adalah salah satu pembaca  coretan ini. Semoga bahagia selalu menyertaimu.

Dari yang yang dijatuhkan.

What Do You Mean?

Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang kamu mau. Kamu dengan tegas membantah apa yang aku katakan. Kadang kamu mengatakan kalau tak ada yang salah. Saat aku merasa semua baik-baik saja, kamu mulai menganggap ada yang salah. Aku tidak bisa benar-benar menebak apa yang kamu rasakan. Apakah kamu bahagia dengan kita? Atau memang kamu tidak?

Kamu begitu mudah cemburu. Namun tak terlalu jelas kamu katakan maksudmu. Setiap kali aku ingin berkompromi, kamu mendominasi. Aku lelah dengan semua ini. Dan aku ingin tahu, sebenarnya apa maksudmu?

Kamu bilang ingin ke kiri, tapi kamu pergi ke kanan. Kita berdebat sepanjang hari. Kadang kamu terlihat begitu bahagia, begitu sedih, kadang pula berada di antara keduanya. Coba katakan kepadaku, apa sebenarnya maumu?

Kamu menganggukkan kepala, padahal kamu mau katakan tidak. Kamu menyuruhku pergi, tapi kamu terus menahanku.

Apa maksudmu?

Kamu bilang, “Semua sudah berakhir.”

Saat ku tanyakan, “Apa maksudmu?”

Kamu hanya mengatakan, “Pikir saja sendiri!”

Apa maksudmu?

~Tulisan ini dibuat karena terinspirasi dari single terbarunya Justin Bieber – What Do You Mean?

Pic. from Google

Ruang Obrolan

Halo, para pengunjung kafe. Kapan saja dan di mana saja kamu membaca ini, semoga kamu selalu bahagia.

Tidak banyak hal yang ingin kuceritakan kali ini. Melainkan sedikit tuangan rindu yang mengepul memenuhi dadaku. Kalau saja saat ini belum ada teknologi secanggih smartphone, rasa-rasanya menjalani hubungan jarak jauh akan terasa sangat sulit. Untuk komunikasi cuma bisa lewat surat. Yang mana untuk menunggu balasannya bisa sampai beberapa hari lamanya. Meskipun dengan itu, jadi ada lebihnya. Kelihatan kalau orang jaman dahulu itu lebih sabar daripada anak jaman sekarang. Mereka sabar menunggu jawaban yang baru diterima berhari-hari. Sedangkan jaman sekarang. Telat bales chat/sms 5 menit saja udah ditanya itu ini. Di interogasi.

Mungkin nggak cuma untuk yang sedang menjalin kasih. Yang tengah memendam rasa pun jadi terbantu dengan adanya teknologi. Terlebih kalau dia belum mampu menyatakan perasaannya.

Sama, seperti aku yang selalu menunggu notifikasi darimu. Pada kotak kecil itu aku memperhatikan setiap kalimat yang kamu kirim. Meski aku tak berani banyak berharap. Aku menikmati saat-saat itu. Setidaknya meski laut memisahkan raga, dalam ruang chat itu, kita bersisian. Mekipun beberapa kali tak kau balas. Beberapa kali kamu lama membalas. Entah kenapa sabarku menunggu seolah tanpa batas. Aku betah menunggu.

Aku tahu, cinta diam-diam itu memang bikin sering makan hati. Jadi meski tak kuungkapkan langsung padamu, biarlah setiap tulisan yang kubuat mengabadikan rasaku. Setidaknya untuk saat ini.

Sampai ketemu lagi, nanti..,

L.D.R.

Jarak ini tidak lebih panjang dari cintaku untukmu. Kuat, ya. 🙂
Yang saya tahu, sebagian orang memang tidak percaya bahwa cinta yang dibentang jarak akan bertahan lama. Saya mengerti kekhawatiran mereka. Mereka tidak salah sepenuhnya. (Tuh buat para pejuang jarak, gue belain.)
Saya memang bukan salah satu dari pelaku cinta jarak jauh. Tapi saya mengakui siapapun yang berani menjalani dan bertahan untuk percaya, mereka hebat. Bukan hal mudah menanggapi pertanyaan-pertanyaan semacam:

“Pacar lo mana?”
“Yakin dia setia di sana?”
“Yakin, dia nggak selingkuh?”

Atau mungkin cibiran seperti:

“Pacaran sama hp, ya.”

Itu sama berbahayanya dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Buat para jomblo.

Jarak hanya membentang raga. Bukan rasa. Itu sebabnya saya percaya sejauh apapun jarak yang membentang, apabila hati kuat dalam keyakinan, tak akan ada masalah. Memang tak mudah. Makanya saya bilang mereka (pelaku LDR) itu hebat.

Ngomong-ngomong soal LDR. Saya suka sama pasangan Ini dan Ini. Saya nggak tahu pasti sih mereka ini dari planet mana. Tapi setiap kali mereka menuliskan kisah tentang pertemuan dan kerinduan mereka, rasanya tuh, gimana ya. Pokoknya kalau kalian baca kalian akan berkomentar “Hebat, ih.” Saya tak jarang dibuat tersenyum guling-guling(?) sama cerita yang mereka tuliskan. Absurd!

Saya do’ain biar pasangan ini menikah, terus langgeng sampai akhir hayat. (Tuh Di, Dep. Gue do’ain! baik kan, gue!)

Saya punya keinginan suatu saat bisa ketemu sama mereka. Kalaupun nggak direncanakan alias papasan di jalan doang nggak apa-apa sih. Soalnya takut nggak sanggup ngelihat mereka berdua. Hehehe. Yah meskipun sekarang saya masih jauh dari sana. Selama nafas masih dikandung badan, dan bayar tiket masih pakai duit yang syaratnya nggak harus bawa pasangan, bisa aja kan. 

Lagi pula heran deh kadang, sama orang-orang. Udah tahu datangnya bawa motor sendirian. Masih juga ditanya; “Lo sendirian?”. Huft!

Tapi Jomblo juga LDR kok.  Tapi pasangannya masih belum diketahui. Rindu-rindunya cuma bisa disampaikan lewat do’a. Lalu mengikhlaskan Tuhan yang menyampaikan semuanya. Tugas si jomblo, memantaskan diri.

Buat yang mau baca-baca kisah mereka, bisa mampir langsung ke blognya: Ini dan Ini. Ada juga blog yang mereka kelola barengan. Inih!

Hal-hal Ini Yang Bisa Kupastikan. Untukmu, Pendampingku di Masa Depan.

Tidak ada yang abadi di dunia. Aku tahu beberapa hal mungkin akan menjadikanmu khawatir. Sebab kita hidup di tempat yang selalu terjadi perubahan setiap waktunya. Sebagai lelaki, yang sedang berusaha menjadi lebih baik agar bisa menjadikanmu pendampingku, aku ingin memastikan hal-hal ini padamu.
Mungkin kamu pernah mendengar beberapa hubungan yang bahkan telah diikat oleh pernikahan, mengalami kegagalan. Wajar bila kamu berpikir beberapa kali sebelum kamu mantap menerima seseorang. Mungkin kamu juga khawatir akan beberapa hal ini. Tenanglah. Aku siap untuk itu.
Biarkan waktu mengikis mudamu, kamu tetap permata terindahku

Menua Bersama |  Source: https://www.realbuzz.com

Pepatah lama itu mungkin benar. Dari mata, turun ke hati. Kamu mungkin khawatir semuanya berubah sebab dari waktu ke waktu kita akan menua. Meskipun aku masih menyembunyikannya, tapi kamu selalu ku puji lewat do’a.
Perempuan manapun, secantik apapun. Di dunia, selalu ada waktu untuk memudar semuanya. Mulai ada keriput di parasmu. Uban mulai menyelip di sela-sela legam rambutmu. Tanganmu mulai gemetar saat menggenggam sesuatu. Aku ingin yakinkan padamu, kecantikan akhlakmu lah yang sebenarnya memikat hatiku. Meski memudar semua pesona fisikmu. Tak kan ku hiraukan itu. Kamu akan tetap cantik di mataku.
Meski tak menungguku, aku memaklumimu
Mungkin kamu lelah. | Src : http://www.laughlovewrite.org
Seiring waktu, kamu akan merenta. Letihmu sering mendera. Mungkin kamu nanti akan lebih sering tertidur lebih dulu saat menungguku pulang kerja. Sebab aktivitas harianmu membuat lelah seluruh tubuhmu.
Aku ingin yakinkan, tak apa dengan semua itu. Terlebih, aku ingin lebih banyak membantumu. Mungkin aku juga tak akan mengijinkanmu beraktivitas yang terlalu berat. Aku akan memintamu untuk tidak memaksakan dirimu. Jika memang kamu terlelap saat menungguku, aku tak akan membangunkanmu untuk menyiapkan makan malam untukku.  Lebih dari itu, aku akan mengecupmu dengan lembut. Agar kamu tak terbangun dari lelapmu.
Ragamu mulai lemah, genggamlah tanganku untuk melangkah
pegang tanganku. | Src: http://www.theparisphotographer.com
Aku ingin menjalani hidup ini bersama-sama. Mulai dari awal kita berumah tangga. Membangun istana kecil kita sendiri. Membangun kerajaan kecil kita sendiri. Tenaga kita semakin banyak terkuras. Semakin lama, kita juga semakin sering berhenti untuk mengambil nafas.
Sayang, aku tak ingin berjalan di depanmu. Bila kamu mulai merasa lelah, genggamlah tanganku. Kita langkahi semua bersama. Sebab, dalam perjalanan hidup tak selamanya mudah dan mulus. Terjal kadang menghadang kita di depan. Jangan pernah ragu untuk memintaku menjadi penopangmu. Aku siap untuk itu.
Ceritamu adalah hal baru bagiku, aku selalu tertarik mendengarnya
Menikmati Senja Bersama. | Src : http://romantic.silviubacky.com
Saat usia kita semakin senja. Tak banyak lagi yang bisa kita lakukan. Entah itu pagi, ataupun senja, mungkin hanya akan kita habiskan untuk bercerita. Percayalah aku tak akan pernah bosan mendengarmu. Aku akan menemanimu berdiskusi kecil sembari menyesap teh. Membicarakan soal acara-acara konyol di televisi. Sampai berdebat tempat makan mana yang paling enak. Aku akan menemanimu.
Semuanya sementara, jangan ada airmata
Tolong, jangan menangis. | Src : http://www.lolzbook.com
Kita hanya mampir sebentar di dunia. Suatu saat kita akan kembali kepadanya. Entah itu aku, atau kamu yang lebih dulu. Aku ingin memastikan, tak kan ada duka yang berkepanjangan. Sebab aku tahu, sudah jalannya begitu. Sebab aku tahu, Dia akan menjagamu. Aku akan lebih banyak mendo’akanmu. Meminta agar Dia menempatkanmu di tempat terindah di sisiNya. Dan berdoa agar suatu saat, di sana, kita akan kembali bersama.
“Bahagialah. Dengan atau tanpa aku di sampingmu. Do’aku selalu menyertaimu.”
Bila aku yang lebih dulu, maukah kamu juga melakukannya?