Mas-Mas Yang Sepi

mas-mas-yang-sepi
pexels

Lembar Notepad yang menjadi tempat saya merangkai draft tulisan berulang kali kembali kosong ketika saya merasa kata-kata yang mulai saya jahit terasa kurang pas. Sudah beberapa waktu begini. Bikin rungsing sendiri.

Barangkali kamu juga sudah lupa, ya. Ketika saya bikin status yang kira-kira bertuliskan begini (Males scroll timeline buat bikin capture karena akan ngehabisin paket, lagi pula itu sudah cukup lama)
Lanjutkan membaca “Mas-Mas Yang Sepi”

Iklan

Terbaik

Ada banyak hal yang kusesali di masa lalu. Ada hal-hal yang sangat aku ingin menghapusnya dari ingatanku dan ingatan orang-orang yang pernah terlibat didalamnya. Tapi itu tidak mungkin, kan?

Kalau tidak ada masa lalu yang seperti itu, aku tidak mungkin jadi aku yang sekarang. Bila tidak ada masa lalu itu, aku tidak akan mengenalmu. Bila tidak ada masa lalu, mungkin aku masih tidak tahu ke  mana harus menuju.

Aku masih tidak tahu apakah kamu nantinya bisa dan mau menerima semuaku. Sebab aku masih menunggu. Aku menunggu waktu yang semestinya untuk menemuimu dengan cara yang kamu harapkan. Karena kamu memang berbeda. Tidak mungkin kusamakan dengan orang yang pernah menjadi masa laluku.

Namun menunggu-ku tak berarti diam. Menanti tak selalu berarti tak melakukan apa-apa. Penantian dalam kesabaran dan kepasrahan, itu adalah sebentuk perjuangan. Karena kamu berbeda. Cara memperjuangkanmu, juga berbeda.

Aku semogakan kamu. Meskipun tidak muluk yang kupinta padaNya untukmu. Hanya bahagiamu, dan yang  terbaik untukmu, juga untukku. 
30 September 2015

Kamu Yang (Kembali) Membuatku Jatuh Hati

Tidak pasti bahwa jatuh hati kepada orang baru, adalah bukti bahwa kita sudah berhasil move on. Namun, ketika jatuh hati itu tak lagi diselimuti dendam masa lalu, mungkin saja iya. Dan kurasa, itu adalah salah satu tanda.

Kamu masuk dengan sederhana dan anggun. Tidak gemlatakan memporak-porandakan debar di dada. Kamu datang dengan membawa ketenangan yang meneduhkan. Kamu hadir dan menguatkanku dalam penerimaan. Meski tidak sepenuhnya kamu sadari, bahkan mungkin tidak kamu sadari.

Aku kagumi apa yang kamu perbuat selama ini. Ya, kamu memang bukan orang yang benar-benar baru di hidupku. Kita pernah bertemu beberapa tahun lalu.  Lalu komunikasi kita sempat terputus. Hingga beberapa waktu belakangan, tumbuh rasa yang sullit kujelaskan.

Kamu bermetamorfosa dari gadis yang dulu kukenal. Meski tak banyak darimu yang berubah, kecuali taqwamu yang menurutku bertambah. Sebab itu aku sangat menghargaimu dengan tak segera mengungkapkan perasaanku. Sebab aku yakin, bukan seperti itu cara yang kamu mau. Aku juga sadar diri seperti apa aku.

Aku tidak pesimis terhadap diriku. Namun aku juga tak mau jadi egois dengan berdo’a, agar hanya aku yang ditakdirkan untukmu. Sebab mungkin saja, saat ini Tuhan sedang mempersiapkan seseorang yang lebih layak untukmu. Maka dari itu, dengan segala penerimaanku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukku juga untukmu.

Kamu yang berhasil membuatku jatuh hati. Mungkin kamu adalah salah satu pembaca  coretan ini. Semoga bahagia selalu menyertaimu.

Dari yang yang dijatuhkan.