Detik Terakhir Kita

detik-terakhir

Kita dekat. Namun hanya punggung kita yang berhadapan. Menutupi banyak hal yang ada di sebaliknya. Tanpa tertembus.

Kita telah kalah. Memang, bukan kalah oleh satu sama lain. Kita kalah oleh diri kita masing-masing. Aku kalah karena merasa tak bisa memperjuangkan. Dan kau kalah, karena selalu merasa berjuang sendirian.
Lanjutkan membaca “Detik Terakhir Kita”

Iklan

Aku Benci Kamu!

Katanya, seseorang yang kita sukai bisa saja menjadi seseorang yang kita benci. Maka sebelum hal itu terjadi, aku ingin belajar membenci segala hal tentang kamu.

Aku selalu benci caramu menahan obrolan kita untuk berhenti.
Aku selalu benci cara bicaramu yang membuatku tak bisa mendengar suara lain selain suaramu.
Aku selalu benci caramu menyesap minuman yang ada di gelasmu.
Aku selalu benci caramu berpakaian yang selalu sederhana namun entah mengapa terlihat sempurna.
Aku benci!
Aku benci saat rindu mulai mengampiriku.
Aku benci saat kamu tiba-tiba datang memecah konsentrasiku.
Aku benci saat setiap malam menjelang tidur, alam bawah sadarku tanpa bisa ku kendalikan kembali menyapamu.
Aku benci setiap sapa darimu yang membuatku lupa caranya terlelap.
Dan hal yang paling ku benci; Aku tidak pernah benar-benar bisa membencimu.

Diam-Diam

Tidak semua orang mampu menunjukkan bagaimana perasaannya. Ada yang diam-diam memperhatikan, ada yang diam-diam memendam. Tidak semua orang bisa dengan terang menunjukkan kekagumannya. Entah dengan pujian-pujian atau dengan perlakuan istimewa. Kadang ada yang memilih diam, dan terus memperhatikan dari sudut yang tak terlihat.

Setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai. Kita tidak bisa menyalahkan ketika seseorang memilih diam-diam  memelihara cintanya. Sebab cara itu lah yang paling membuatnya nyaman. Meskipun resikonya juga tidak ketulungan. Terlebih, bila harus kehilangan tanpa sempat mengungkapkan.  Tapi juga ada yang memilih untuk tak pernah mengungkapkannya, dari pada harus kehilangan lebih cepat.

Benar memang, kata orang. Resiko mengungkapkan itu ada dua; diterima atau ditolak. Bagi beberapa orang, mencintai diam-diam adalah caranya untuk menghindari resiko yang ke-dua.  Meski dengan cara itu, dia harus siap-siap makan hati. Siap-siap terbakar gosong oleh rasa cemburu. Siap-siap teriris sembilu. Soalnya, mencintai diam-diam cuma bisa memperhatikan. Ketika ada yang lebih berani mendekati, si pecinta diam-diam ini cuma bisa menahan.

Kalau dipikir lag. Ada hal yang lebih menyesakkan dalam hal cinta diam-diam. Yaitu saling kehilangan, tanpa satu sama lain pernah tahu apa yang sebenarnya dirasakan. Dan ketika menyadarinya, semuanya sudah terlambat.

Hal-hal Ini Yang Bisa Kupastikan. Untukmu, Pendampingku di Masa Depan.

Tidak ada yang abadi di dunia. Aku tahu beberapa hal mungkin akan menjadikanmu khawatir. Sebab kita hidup di tempat yang selalu terjadi perubahan setiap waktunya. Sebagai lelaki, yang sedang berusaha menjadi lebih baik agar bisa menjadikanmu pendampingku, aku ingin memastikan hal-hal ini padamu.
Mungkin kamu pernah mendengar beberapa hubungan yang bahkan telah diikat oleh pernikahan, mengalami kegagalan. Wajar bila kamu berpikir beberapa kali sebelum kamu mantap menerima seseorang. Mungkin kamu juga khawatir akan beberapa hal ini. Tenanglah. Aku siap untuk itu.
Biarkan waktu mengikis mudamu, kamu tetap permata terindahku

Menua Bersama |  Source: https://www.realbuzz.com

Pepatah lama itu mungkin benar. Dari mata, turun ke hati. Kamu mungkin khawatir semuanya berubah sebab dari waktu ke waktu kita akan menua. Meskipun aku masih menyembunyikannya, tapi kamu selalu ku puji lewat do’a.
Perempuan manapun, secantik apapun. Di dunia, selalu ada waktu untuk memudar semuanya. Mulai ada keriput di parasmu. Uban mulai menyelip di sela-sela legam rambutmu. Tanganmu mulai gemetar saat menggenggam sesuatu. Aku ingin yakinkan padamu, kecantikan akhlakmu lah yang sebenarnya memikat hatiku. Meski memudar semua pesona fisikmu. Tak kan ku hiraukan itu. Kamu akan tetap cantik di mataku.
Meski tak menungguku, aku memaklumimu
Mungkin kamu lelah. | Src : http://www.laughlovewrite.org
Seiring waktu, kamu akan merenta. Letihmu sering mendera. Mungkin kamu nanti akan lebih sering tertidur lebih dulu saat menungguku pulang kerja. Sebab aktivitas harianmu membuat lelah seluruh tubuhmu.
Aku ingin yakinkan, tak apa dengan semua itu. Terlebih, aku ingin lebih banyak membantumu. Mungkin aku juga tak akan mengijinkanmu beraktivitas yang terlalu berat. Aku akan memintamu untuk tidak memaksakan dirimu. Jika memang kamu terlelap saat menungguku, aku tak akan membangunkanmu untuk menyiapkan makan malam untukku.  Lebih dari itu, aku akan mengecupmu dengan lembut. Agar kamu tak terbangun dari lelapmu.
Ragamu mulai lemah, genggamlah tanganku untuk melangkah
pegang tanganku. | Src: http://www.theparisphotographer.com
Aku ingin menjalani hidup ini bersama-sama. Mulai dari awal kita berumah tangga. Membangun istana kecil kita sendiri. Membangun kerajaan kecil kita sendiri. Tenaga kita semakin banyak terkuras. Semakin lama, kita juga semakin sering berhenti untuk mengambil nafas.
Sayang, aku tak ingin berjalan di depanmu. Bila kamu mulai merasa lelah, genggamlah tanganku. Kita langkahi semua bersama. Sebab, dalam perjalanan hidup tak selamanya mudah dan mulus. Terjal kadang menghadang kita di depan. Jangan pernah ragu untuk memintaku menjadi penopangmu. Aku siap untuk itu.
Ceritamu adalah hal baru bagiku, aku selalu tertarik mendengarnya
Menikmati Senja Bersama. | Src : http://romantic.silviubacky.com
Saat usia kita semakin senja. Tak banyak lagi yang bisa kita lakukan. Entah itu pagi, ataupun senja, mungkin hanya akan kita habiskan untuk bercerita. Percayalah aku tak akan pernah bosan mendengarmu. Aku akan menemanimu berdiskusi kecil sembari menyesap teh. Membicarakan soal acara-acara konyol di televisi. Sampai berdebat tempat makan mana yang paling enak. Aku akan menemanimu.
Semuanya sementara, jangan ada airmata
Tolong, jangan menangis. | Src : http://www.lolzbook.com
Kita hanya mampir sebentar di dunia. Suatu saat kita akan kembali kepadanya. Entah itu aku, atau kamu yang lebih dulu. Aku ingin memastikan, tak kan ada duka yang berkepanjangan. Sebab aku tahu, sudah jalannya begitu. Sebab aku tahu, Dia akan menjagamu. Aku akan lebih banyak mendo’akanmu. Meminta agar Dia menempatkanmu di tempat terindah di sisiNya. Dan berdoa agar suatu saat, di sana, kita akan kembali bersama.
“Bahagialah. Dengan atau tanpa aku di sampingmu. Do’aku selalu menyertaimu.”
Bila aku yang lebih dulu, maukah kamu juga melakukannya?

Kehadiranmu dan Do’a Yang Kupanjatkan

Entah karena sudah terlalu terluka, hingga aku lupa. Atau karena memang sudah saatnya. Ternyata sesederhana ini untuk mencinta.

Tiba-tiba kamu muncul entah dari mana. Kita memang sudah saling kenal sebelumnya. Namun kini, kamu menghadirkan getaran yang kurindukan. Hal yang membuatku mengulum senyum saat notifikasi chat darimu tampak di layar handphoneku.

Terkadang aku merasa tak pantas untukmu sebab masa laluku. Namun tak mungkin kupungkiri bahwa hati berharap, agar bisa bersanding denganmu. Jadi kugunakan waktu dan kesempatan dalam jarak ini untuk memperbaiki diriku. Meski tak pernah bisa merubah masa lalu kelam ku. Semoga saja. Aku hanya bisa berdo’a kamu mau menerimaku.

Tak kalah penting dari itu. Ridha Tuhan lah yang ku harap menyatukan kamu dan aku. Sebab jika semua itu adalah kehendakNya, tak pernah akan ada luka. Sebab rencanaNya selalu yang sempurna. Hanya saja kekerdilan kita sebagai manusia sering mengartikannya berbeda. Aku sungguh berharap, Dia menganggapku pantas untukmu. Sehingga kuasaNya menggerakkan hatimu untuk melihatku.
Kupasrahkan kamu dengan do’a. Ku ikhtiarkan dengan usaha. Aku tahu aku tidak sempurna. Pun kamu. Meski aku tidak tahu sebab apa yang menggetarkan hatiku. Aku sungguh berharap denganmu-lah, kuarungi sisa hidupku.

~~~

Bukan Memaksa Memiliki

Satu hal lagi yang ku pelajari tentang mencintai  selain tak harus memiliki. Adalah hak kita punya rasa untuknya. Begitu juga dia. Dia punya hak punya rasa untuk seseorang yang bukan kita.

Tak apa kita berusaha. Karena sebagai seseorang yang memendam rasa kita pasti punya harapan untuk bisa bersamanya. Hanya saja jangan sampai cinta itu membuat kita buta.

Beberapa orang masa bodoh dengan hal itu. “Yang penting dia jadi milikku.” Kata mereka begitu. Tapi hati manusia, kan tidak bisa dipaksa. Bila rasanya memang bukan buat kita, ikhlaslah.

Memang berat melepas seseoang yang kita sayangi. Namun Tuhan tidak pernah ingkar janji. “Seseorang yang baik, berjodoh dengan yang baik.”

Aku memang tidak tahu segalanya tentang cinta. Yang aku tahu hanya, cinta adalah tentang membuatnya bahagia. Bukan memaksa memilikinya.

Jangan Memaksa

Bukalah matamu. Jangan pernah cinta membuatmu buta. Buta melihat dan merasa. Berusaha melakukan apapun demi memiliki tanpa mengerti bahwa, mungkinkah dia bahagia? Sedangkan kita selalu egois dengan perasaan yang kita punya.

Bahagia adalah inti dari cinta. Meskipun kebahagian itu bukan berarti harus dengan memiliki. Kadang bahagia itu hanya bisa diraih dengan melepaskan. Lalu sebenarnya, bahagia itu untuk siapa?

Bagiku, hal terpenting saat mencintai adalah kebahagiaan orang yang kita cintai. Aku tahu tidak semua cinta bisa memiliki. Bia dia bahagia bersama orang lain, maka aku hanya bisa melepaskannya, dan berusaha berlapang dada. Karena jikapun aku memaksa, dia malah jadi tersiksa. Kalaupun dia aku miliki, maka hanya raganya yang ada disisi. Sedang hatinya terbang entah kemana. Aku hanya memiliki wadah kosong tanpa isi.

Kita tidak bisa egois dengan mementingkan kebahagiaan kita sendiri saat mencintai. Karena mencintai bukan perkara memiliki. Tapi bagaimana kebahagiaan orang yang kita cintai. Jadi, jangan memaksa.

Berbeda Ceritanya

src : deviantart.com
Jika aku tidak pernah di sini, pasti akan berbeda ceritanya. Kita tidak akan pernah bertemu, saling kenal, lalu jatuh cinta. Mungkin saat ini kita sedang menjalani kisah masing-masing tanpa saling mengetahui. Mungkin juga saat ini aku sedang kebingungan karena habis uang bulanan. Mungkin saat ini, aku sedang meratap bersama malam. Semoga besok, ada yang berbaik hati berbagi makan.

Namun begitulah takdir. Dia membawaku menjalani fase yang satu ke fase yang lainnya. Seolah ingin memberitahuku tentang sesuatu yang aku tidak mengerti itu apa.Ia hanya memintaku untuk mengikutinya. Hingga akhirnya. Aku di sini.

Bersamamu. Mencoba mengukir kisah. Yang pastinya jauh dari kata sempurna. Kita menjadi dua orang yang saling mencoba. Menjejaki dunia yang tak terbayangkan sebelumnya. Seandainya aku tak kembali, pasti beda ceritanya. bisa jadi, kita tidak pernah ada.

Kenapa?

Aku ingin menyalahkan angin yang membelai rambutmu. Menerbangkannya hingga melambai. Memancarkan pesonamu hingga aku luluh. Aku ingin menyalahkan angin. Sebab itu aku jadi jatuh cinta padamu.

Eh, aku juga ingin menyalahkan segelas minuman itu. Saat aku tak sengaja tersandung dan minuman itu mengenaimu. Menodai bajumu. Yang sebab itu aku jadi lebih dekat denganmu.

Aku juga ingin menyalahkan sepeda itu. Yang saat hari Minggu untuk pertama kalinya kita jalan-jalan bersama. Yang sebab itu, aku selalu rindu tanganmu yang memegang sudut bajuku.

Aku ingin menyalahkan bunga itu. Bunga yang sengaja ku siapkan untuk menyatakan perasaanku. Yang sebab itu, aku jadi tahu bahwa kamu hanya menganggap aku sebagai sahabatmu. Aku ingin menyalahkan semuanya. Aku kesal. Kenapa tidak bisa aku denganmu saja. Kenapa tidak bisa kamu menerimaku. Kenapa?

Kenapa cinta ini harus tumbuh untukmu. Kenapa?