Detik Terakhir Kita

detik-terakhir

Kita dekat. Namun hanya punggung kita yang berhadapan. Menutupi banyak hal yang ada di sebaliknya. Tanpa tertembus.

Kita telah kalah. Memang, bukan kalah oleh satu sama lain. Kita kalah oleh diri kita masing-masing. Aku kalah karena merasa tak bisa memperjuangkan. Dan kau kalah, karena selalu merasa berjuang sendirian.
Lanjutkan membaca “Detik Terakhir Kita”

Iklan

Sesuatu Yang Mahal

Derap langkah yang kami ayunkan di lorong panjang rumah sakit membawa saya pada pemandangan yang bermacam. Sudah beberapa hari ayah dari temannya teman saya dirawat di ICU karena kecelakaan. Penyebab kecelakaannya sebetulnya sederhana. Namun penyakit darah tinggi yang sudah lama diderita membuat kondisinya jadi buruk. Sebagai bentuk solidaritas, teman saya meminta saya menemaninya pergi menjenguk. Lanjutkan membaca “Sesuatu Yang Mahal”

Sambutan Dan Misi Balas Dendam

lampu-temaramSelamat datang di alamat dan rumah barunya kafe temaram.

Cukup berat rasanya melepas platform yang sudah membesarkan kafe temaram selama ini. Mulai dari yang pengunjung perharinya satuan sampai jadi puluhan. Mulai dari yang tulisannya masih lu-gue, sampai jadi seperti sekarang. Yah, kadang kita harus rela melepaskan sesuatu yang sudah kita genggam lama. Lanjutkan membaca “Sambutan Dan Misi Balas Dendam”

Terimakasih, Sudah Pernah Hadir

Hai…

Tuhan masih membiarkan aku hidup. Setidaknya hingga saat ini. Saat aku mengetik tulisan ini. Tanggal 1 di bulan Januari baru saja berlalu. Ucapan selamat tahun baru masih ditayangkan di televisi. Entah bagaimana kalian melewati gegap gempita pergantian tahun beberapa malam yang lalu. Semoga tetap menyenangkan.

Lanjutkan membaca “Terimakasih, Sudah Pernah Hadir”

Banda Neira : Sebuah Akhir

Ketidakabadian terkadang membuat kita berpikir bahwa dunia tidak adil. Semesta tak mendukung keinginan kita. Ketidakabadian seringkali membuat kita lupa, bahwa dia milik Sang Pencipta yang Maha Berkehendak untuk semuanya. Bahwa bagi manusia, ketidakabadian adalah hal terbaik di dunia. Sebagai tempat belajar untuk menjalani kehidupan berikutnya. Kehidupan yang abadi (bagi yang percaya).

Ah. Aku tidak akan membahas sejauh itu kali ini. Aku hanya ingin sedikit berbagi mengenai sebuah rasa kehilangan yang terjadi baru-baru ini. Sampai di sini aku mulai sadar kalau pilihan diksiku payah. Tapi biarlah. Semoga masih cukup untuk membuatmu betah membaca hingga akhir cerita.

Rumah kosong
Sudah lama ingin dihuni
Adalah teman bicara; Siapa saja atau apa
Jendela, kursi
Atau bunga di meja
Sunyi, menyayat seperti belati
Meminta darah yang mengalir dari mimpi

Sebuah puisi karya musikalisasi puisi Subagio Sastrowardoyo yang -saya curiga kalau beliau ada kaitannya dengan Dian Sastro- dibuat musikalisasinya, yang ketika mendengarnya membuat saya langsung jatuh cinta pada band yang membawakannya. Banda Neira. Mengaku sebagai duo band nelangsa riang yang diawaki oleh Ananda Badudu sang gitaris yang tak hapal nama kunci, dan Rara Sekar -kakaknya Isyana Sarasvati- yang digadang-gadang sebagai vokalis kamar mandi. Lanjutkan membaca “Banda Neira : Sebuah Akhir”

Backspace.

Setiap kali berada di tempat seperti ini, entah kenapa kepalaku memanggil hadir ingatan itu. Ingatan saat setelah sekian waktu kita bertemu. Lucu, terkadang jika kuingat-ingat. Bagaimana kenangan yang biasa saja bisa jadi berkesan hanya karena hadirnya seseorang.

———-

Hh…
Sudah cukup lama, ya. Entah kamu yang mulai sibuk, atau aku yang mulai takut-takut untuk memulai. Padahal sudah terketik. Jarak jempolku dengan tombol ‘kirim’ pun tak lebih jauh dari 5 mm.

Hanya saja beberapa hal kemudian terlintas di benakku.

Kau mungkin tengah sibuk sekali. Jika malam, mungkin kau tengah lelah dan butuh istirahat. Mungkin kau akan semakin jauh jika setiap hari aku menanyaimu. Padahal aku bukan siapamu. Ah. Rasanya aku ingin menyalahkan perasaan. Kenapa dia menghadirkan harap di saat yang tidak tepat.

———-

Jika tidak keberatan. Ah tidak. Aku akan mengumpulkan sedikit keberanian. Agar kata sapa yang berisi tiga huruf itu tak lantas lenyap ditelan ‘backspace’. Sedikit keberanian untuk menekan tombol ‘sent’.

Pada satu kata.

Tiga huruf.

Dan satu titik.

Walau beberapa orang hanya menuliskan dua huruf saja. Tapi versi ini aku lebih suka.

———-