Waktu Untuk Sembuh

Tidak ada yang akan terus menetap. Sebab hidup memiliki masa. Setiap yang berawal pasti berakhir. Kau juga harus mengerti, ketika sesuatu sudah ditakdirkan berakhir, satu-satunya hal yang perlu kau lakukan adalah memulai langkah.

Aku tahu betapa pelik ketika harapan-harapan yang terbangun dalam angan pupus sirna tak bersisa. Aku sadar setiap orang berbeda-beda menyikapinya. Dan untukmu, barangkali kau memang cuma butuh waktu yang sedikit lebih lama untuk terbiasa. Itu pikiran positifku. Sedangkan prasangkaku, kau hanya terlalu sering mengubur dirimu dengan nostalgia masa lalu.

Aku ingin memberitahumu bahwa kadang pada kenyataannya ada cinta yang hanya hadir tanpa bisa diapa-apakan. Memberitahumu tentang berbagai alasan yang semestinya cukup untuk membuatmu berhenti dan menerima realita. Bahwa beberapa harapan ada, hanya untuk dilepaskan.

Iklan

Level Tertinggi Dalam Mencintai

level tertinggi mencintai

Menyatakan perasaan, pada akhirnya hanyalah sebuah pengakuan. Selanjutnya, adalah kesepakatan.

Tidak selalu, memang. Sebuah perasaan dibalas dengan rasa yang sama. Satu hal yang saya tahu, tidak semua orang dianugerahi kemampuan untuk mengungkapkan perasaan dengan baik. Sebagian orang hanya mampu memberi signal-signal dari jauh. Sebagian lainnya hanya mampu membuatnya tampak seperti bercanda. Seperti, ya kau tahu lah.

Tapi ya, setelah saya pikir lagi, barangkali kalau memang ingin menyatakan perasaan, ya nyatakan saja. Jika kamu memang tulus menyukainya, semestinya kau tak ragu menyatakannya sebab kau juga tak mengharap apa-apa.

+ “Aku menyukaimu.”
– “Iya. Oke. Terus?”
+ “Aku cuma mau bilang itu saja.”
– “…”
Lanjutkan membaca “Level Tertinggi Dalam Mencintai”

Benar, Di Sini

“Aku benci ini.” Katamu sambil mengedarkan pandanganmu.

Ada getar yang tertahan di suaramu. Kamu juga enggan menatapku sejak tadi.

“Aku tahu. Benar-benar tahu. Sebab aku juga sama.” Batinku melirih getir. Tanganku lantas bergerak menjemput tanganmu.

Sesuatu yang memiliki masa, tidaklah abadi. Itu yang kupahami. Selalu ada akhir untuk sesuatu yang dimulai. Selalu ada pisah untuk setiap pertemuan. Selalu ada pergi dari sebuah kedatangan. Dan kamu tahu? Pada detik-detik di jelang itu, yang akan segera kita lalui nanti, ada satu hal yang membuatnya terasa menyenangkan. Lebih tepatnya, sesuatu yang kusyukuri.
Lanjutkan membaca “Benar, Di Sini”

Sebelum Akhirnya Kuputuskan Untuk Pergi

Sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi, sapamu adalah apa yang selalu kunantikan dengan debar. Kata-katamu adalah apa yang kubaca dengan sabar. Kuhemat-hemat agar bisa menikmatinya lamat-lamat.

Bertukar kabar barang sebentar, sudah cukup menenangkan rinduku yang gusar. Ketika balasmu jadi sedikit lebih lama, aku jadi dilema. Aku bisa duduk diam dan menatap ponsel cukup lama. Menanti suara dering yang jika darimu entah kenapa terasa nyaring di kuping. Lanjutkan membaca “Sebelum Akhirnya Kuputuskan Untuk Pergi”

Bumbu Kopi Termantab!

BUMBU KOPI MANTAB

– Padahal gue yakin, semua orang yang ada di sini pasti bisa bikin kopi ginian. Tapi kenapa bisa se rame ini ya?

+ Ya sama halnya kayak kafe yang sering kamu datengin itu, Mo. Aku juga percaya kamu juga lebih dari mampu buat bikin makanan yang sama persis seperti yang ada di sana.

– Tapi kan beda, Sur. Tempat itu bermakna buat gue.

+ Apa? Tempat pertama kali kamu ketemu sama Cindy? Pada intinya sama aja. Lanjutkan membaca “Bumbu Kopi Termantab!”

Ini Apa Namanya?

Gue nggak bermasalah sama kesendirian, tuh.

Nggak tau kenapa, tapi untuk beberapa hal, saya memang lebih sering sendirian. Bukan berarti suka, ya. Cuma rada segan mau ngajak teman. Siapa tahu dia sibuk. Siapa tahu saya ngerepotin. Siapa tahu sebetulnya saya nggak dianggap temen. Ya perasaan-perasaan macam itu lah. Tapi kalau saya dimintai tolong buat nemenin kemana gitu, biasanya bakal ayok tanpa pikir panjang. Soalnya saya tahu bagian dari nggak enaknya pergi sendirian. Lanjutkan membaca “Ini Apa Namanya?”

Mas-Mas Yang Sepi

mas-mas-yang-sepi
pexels

Lembar Notepad yang menjadi tempat saya merangkai draft tulisan berulang kali kembali kosong ketika saya merasa kata-kata yang mulai saya jahit terasa kurang pas. Sudah beberapa waktu begini. Bikin rungsing sendiri.

Barangkali kamu juga sudah lupa, ya. Ketika saya bikin status yang kira-kira bertuliskan begini (Males scroll timeline buat bikin capture karena akan ngehabisin paket, lagi pula itu sudah cukup lama)
Lanjutkan membaca “Mas-Mas Yang Sepi”