Benar, Di Sini

“Aku benci ini.” Katamu sambil mengedarkan pandanganmu.

Ada getar yang tertahan di suaramu. Kamu juga enggan menatapku sejak tadi.

“Aku tahu. Benar-benar tahu. Sebab aku juga sama.” Batinku melirih getir. Tanganku lantas bergerak menjemput tanganmu.

Sesuatu yang memiliki masa, tidaklah abadi. Itu yang kupahami. Selalu ada akhir untuk sesuatu yang dimulai. Selalu ada pisah untuk setiap pertemuan. Selalu ada pergi dari sebuah kedatangan. Dan kamu tahu? Pada detik-detik di jelang itu, yang akan segera kita lalui nanti, ada satu hal yang membuatnya terasa menyenangkan. Lebih tepatnya, sesuatu yang kusyukuri.

Itu adalah tatapmu. Tatap yang membuatku enggan beranjak. Tatap yang membuatku yakin bahwa kamu tak pernah melepasku pergi. Tatap yang membuatku sadar, aku beruntung kau miliki.

Hingga lambaian terakhir menjelang burung besi mengantarku pergi, tatapmu masih membuatku yakin; letak hatiku benar di sini. Bersamamu. Di hatimu.

“Mas pergi, Dek. Semoga kita bisa melewati ini.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s