Sebelum Akhirnya Kuputuskan Untuk Pergi

Sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi, sapamu adalah apa yang selalu kunantikan dengan debar. Kata-katamu adalah apa yang kubaca dengan sabar. Kuhemat-hemat agar bisa menikmatinya lamat-lamat.

Bertukar kabar barang sebentar, sudah cukup menenangkan rinduku yang gusar. Ketika balasmu jadi sedikit lebih lama, aku jadi dilema. Aku bisa duduk diam dan menatap ponsel cukup lama. Menanti suara dering yang jika darimu entah kenapa terasa nyaring di kuping.

Sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi, kamu adalah yang kuharapkan jadi yang terakhir dan satu-satunya. Kamu yang memicu getar-getar asing yang terasa familiar  sebagai seseorang yang pernah jatuh cinta. Hanya saja, kamu hadir dengan cara dan rasa yang berbeda. Lebih tenang. Lebih pelan. Tiba-tiba aku sudah tenggelam.

Sebelum akhirnya kuputuskan untuk pergi, teringat kamu itu hal yang menyenangkan. Walau akhirnya rindu itu hanya bisa kuredam sendirian. Sebab jarak kita belum memungkinkan agar kita bisa bertukar kedipan.

Aku bersyukur sebab itu kamu. Dijatuhkan kepadamu itu seperti terbang ke bintang. Anganku terbang beberapa langkah ke depan. Bagaimana kita jika berjalan beriringan. Bagaimana jika tengan kita saling menggenggam. Bagaimana jika di jari manis kita sama-sama terpasang cincin yang sama sebagai penanda resminya sebuah ikatan.

Tapi, itu kejauhan.

Pada akhirnya aku disadarkan oleh keadaan. Aku dipukul mundur oleh kenyataan. Jarak yang membentang di antara kita, serta merta berubah jadi cermin super besar. Ada yang mencoba menamparku untuk kembali meliat diriku.

“Dia, tak pantas untukmu!”

Tulisan itu seperti muncul di cermin besar itu. Tak bisa kuhapus. Kulempari berkali-kali tak retak secuilpun. Aku dipaksa bangun dari harapan-harapan yang sempat tersusun.

Yah…

Barangkali aku memang sudah berlebihan. Tak seharusnya rasa yang tumbuh kujadikan sebagai alasan untuk terus membangun harapan-harapan.

Kamu adalah yang aku ingin terus bisa kubahagiakan. Namamu adalah kata yang tersering kurapalkan. Tentangmu adalah yang selalu terlintas di ingatan. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk pergi, dan menyimpan semuanya untukku sendiri.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s