Detik Terakhir Kita

detik-terakhir

Kita dekat. Namun hanya punggung kita yang berhadapan. Menutupi banyak hal yang ada di sebaliknya. Tanpa tertembus.

Kita telah kalah. Memang, bukan kalah oleh satu sama lain. Kita kalah oleh diri kita masing-masing. Aku kalah karena merasa tak bisa memperjuangkan. Dan kau kalah, karena selalu merasa berjuang sendirian.

Jauh-jauh jarak ini kutempuh hanya untuk memastikan masih ada yang bisa dipertahankan. Namun sejak kita bertemu beberapa menit lalu, hanya ada sendu di matamu. Kamu, bahkan enggan menatapku. Dan aku tahu. Aku sudah terlambat. Kamu sudah meninggalkan aku biarpun ragamu masih dihadapanku.

Aku memang tak tahu diri sudah berani memilikimu tanpa sepenuhnya memperjuangkanmu. Sejak aku sadar kau sudah meletakkan aku sebagai masa lalumu, aku hanya harus kembali.

Langkah kita semakin jauh seiring detik. Hingga satu waktu aku terhenti. Hari ini bukanlah sesuatu yang pernah kubayangkan akan ada di kisah kita. Ini sesak yang paling sesak yang pernah kualami.

Aku berbalik. Beberapa detik. Dan kamu di sana. Melihatku.

Saat itu, aku tahu.

Kamu…

Menunggu.

 

pic from pexels.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s