Sesuatu Yang Mahal

Derap langkah yang kami ayunkan di lorong panjang rumah sakit membawa saya pada pemandangan yang bermacam. Sudah beberapa hari ayah dari temannya teman saya dirawat di ICU karena kecelakaan. Penyebab kecelakaannya sebetulnya sederhana. Namun penyakit darah tinggi yang sudah lama diderita membuat kondisinya jadi buruk. Sebagai bentuk solidaritas, teman saya meminta saya menemaninya pergi menjenguk.

Ada wajah lesu yang tergambar sangat jelas di wajah keluarga yang kami jenguk. Beberapa dari mereka matanya sembab seperti habis menangis. Saya tidak tahu bagaimana keadaan orang yang akan kami jenguk, namun melihat keluarga yang sudah beberapa hari menemani di rumah sakit, sepertinya kondisinya belum juga baik. Kami tidak dapat memasuki ruangan rawat. Jadilah kami hanya menemani keluarganya di luar, mendengarkan ceritanya, dan sedikit menghiburnya.

Orang yang masuk ke rumah sakit, adalah orang-orang yang datang dengan harapan. Harapan dirinya akan sembuh. Dan bagi yang menemaninya, entah keluarga atau lainnya, juga datang dengan harapan, bahwa orang yang mereka sayangi akan kembali sehat. Pulang ke rumah, dan kembali meramaikan hari-hari seperti sebelumnya. Namun kadang harapan itu harus pupus begitu saja, juga ketika sedang berada di rumah sakit. Dalam harap-harap itu, saya lihat juga raut cemas. Cemas kalau orang yang sedang mereka do’akan kesembuhannya, malah dipilih untuk pulang ke sana. Kepada-Nya. Selamanya. Seolah tak peduli sedang berada di mana, anak-anak kecil berlarian di lorong rumah sakit. Yah, mereka punya dunianya.

Beberapa jam sebelum kami datang, ada seseorang yang sudah berpulang. Saat kami di sana, terlihat beberapa orang yang datang mencari yang bersangkutan tersebut yang ternyata sudah diantar ke rumah duka. Di tengah-tengah kami bercerita, ada yang tersenyum lega sambil membawa tas dan barang bawaan yang mereka bawa untuk menemani si sakit yang akhirnya bisa kembali pulang. Dan sekali lagi, sebelum berpamitan, ada do’a demi kebaikan yang dipanjatkan.

Senja yang cerah, dengan beberapa buah layangan yang membumbung di angkasa jadi penutup hari yang sempurna. Saya bersyukur setidaknya Tuhan masih mengijinkan saya untuk tetap sehat. Biarpun beberapa bagian tubuhku tidak berfungsi sempurna seperti gigi yang ngilu, saya masih bisa beraktivitas seperti biasa.

Dan semoga, kau juga selalu sehat, kawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s