Ngeyakinin Orangtua Kamu

Salah satu pertanyaan sakti para calon mertua ketika ada seseorang -biasanya laki-laki yang datang ketika bermaksud menyatakan keinginannya untuk melamar atau sejenisnya, adalah:

“Kamu kerjanya apa?”

Beberapa minggu yang lalu, saya dan beberapa teman di kampus menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Cabang Muara Bungo. Gambaran singkatnya, acara tersebut merupakan acara yang membahas mengenai program-program yang akan dilakukan HIPMI cabang Muara Bungo hingga beberapa tahun ke depan. Namanya juga Himpunan Pengusaha, ya jelas, isinya para pengusaha. Beberapa diantaranya masih sangat muda, yang kemudian saya tahu namanya; Kevin dan Arifin.

Sebetulnya saya punya ide bisnis yang sudah lumayan membayang di kepala. Alasan pertama, karena di semester 7 ini mahasiswa jurusan saya harus mengontrak mata kuliah Entrepreneurship, yang mana diharuskan pula untuk melakukan praktek kewirausahaan. Alasan ke dua, adalah karena sebentar lagi lulus. Saya tidak mau kemudian menjadi seperti kakak tingkat dan beberapa teman saya yang sudah mendahului saya wisuda. Wira-wiri cari kerja. Masukin lamaran ke mana-mana. Bahkan sebagian besar nggak tahu mau ke mana dan akhirnya mengikuti jejak orang tua. Menjadi petani karet/sawit. Nggak salah, sih. Cuma, rasanya seperti percuma kuliah lama dengan bisaya yang lumayan, tapi ujung-ujungnya sama saja. Akan berbeda kalau terjun di bidang pertanian, tapi kita bisa mempekerjakan orang lain. Itu baru namanya mengamalkan ilmu.

Melihat kenyataan yang demikian itu lah saya jadi ngebet pengen mulai bisnis. Memang lumayan sulit untuk mendapatkan kepercayaan orangtua bahwa saya serius ingin terjun di bisnis. Tapi, akhirnya lumayan diberi kelonggaran. Sebab daripada wira-wiri ngelamar kerja, lebih baik ngelamar kamu. eh gimana? Abaikan!

“Jadi kamu ini kerjanya apa?”
“Saya pengusaha, pak.” Sambil mesam-mesem, muka dimanis-manisin.
“Ooo… Usaha apa?”  … Udah lama? … Omzet berapa? … Udah punya rumah? … Bla… bla.. bla…”
“Jadi gimana, pak. Apa saya diterima?”
“Anda penasaran? Tunggu setelah pesan-pesan berikut ini.”
“Lah…”

Jalan pun seolah jadi terbuka ketika di acara tersebut saya bertemu teman lama. Kemudian kami sharing tentang bagaimana-bagaimananya. Tidak menunggu lama. Dua minggu setelah pertemuan itu, produksi pertama di lakukan. Memang yang namanya memulai nggak selalu mulus. Kendalanya ada aja. Tapi semoga, seiring berjalannya waktu, bisnis ini bisa menjadi salah satu hal, agar bisa ngeyakinin orangtua kamu. Eh apa? Skip!

Sekalian promo aja deh, ya. Ini link media sosial yang saya kelola untuk brand bisnis saya.

IG : @nageh.id
FB : Nageh

Saat ini memang masih belum bisa ngelakuin pengiriman ke luar daerah, sih. Tapi nggak apa-apa kalau kalian pengen tau dulu. Semoga bisa segera ekspansi.

Segini dulu ceritanya. Till Next Time!

Iklan

7 pemikiran pada “Ngeyakinin Orangtua Kamu

  1. Huaaaa.. Asik asik punya temen pengusaha. Semoga sukses yak! 😀

    Jangan mikirin untung dulu lah, tapi mikir BEP.

    Dulu pas semester 3 aku uda ambil makul Kewirausahaan dan kelompok ku dikasih modal 20 juta buat usaha. Hihihi. Alhamdulillah bisa untung sik. Sayang gak diterusin 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s